JUARA KHITOBAH TINGKAT PROVINSI, INI RAHASIA AYU

Senyum lepas gadis manis kelahiran kabupaten republik kopi ini tak kunjung sirna meski awalnya dia malu untuk menceritakan keberhasilannya. Begitu ditemui di halaman sekolah MTs Nurul Jadid ia mengenakan seragam khas lembaganya.

Ayu Trisnawati, begitu gadis itu diberinama sejak lahir. Orang-orang kerap memanggilnya Ayu. Dara yang lahir pada tanggal 29 Juli 2003 ini mengaku tidak pernah bermimpi ia akan membawa pulang piala tertinggi dalam lomba Pidato bahasa arab (Khitobah) tingkat provinsi yang digelar oleh UINSA.

Keinginan terbesarnya hanya ingin mengalahkan salah satu temannya yang selalu mendapat juara satu khitobah di Class Meeting dan Bulan Lomba PP Nurul Jadid.  Untuk meloloskan misinya tersebut akhirnya ia memberanikan diri mengikuti lomba dalam skala yang lebih besar.

Lomba yang ia ikuti dan membawa pulang juara 2 adalah khitobah dalam Gebyar Aroby yang diselenggarakan oleh Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo. Setelah itu ia terpilih untuk mewakili MTsNJ dalam lomba khitobah dalam rangka Festival Aroby 2017 yang diselenggarakan oleh Universitas Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

“Selain untuk membuat kedua orangtua saya bangga, saya juga ingin membuktikan bahwa program saya (Program Agama, red.) juga bisa mengharumkan nama MTsNJ. Tidak hanya program unggulan yang sering dipuji oleh guru-guru,” tutur gadis yang gemar bernyayi itu.

Ayu mengaku persiapan yang dilakukan olehnya sebelum berangkat ke Surabaya tergolong mendadak bahkan keseriusannya berkali-kali ditanyakan oleh Abdul Haq, pelatih khitobah Ayu.

Selepas menampilkan khitobahnya ia pesimis akan masuk ke babak final. Akhirnya ia memutuskan untuk pasrah terhadap takdir yang harus ia jalani. Tak disangka ternyata ia berhasil masuk ke babak final. Demi itu Ayu mempersiapkan dirinya sebaik mungkin sebelum tampil dengan waktu yang sangat terbatas.

Detik-detik pengumuman pemenang lomba menjadi sangat panjang bagi Ayu. Berbagai do’a ia panjatkan dalam keadaan harap-harap cemas. Ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang akan terjadi adalah yang terbaik baginya.

Gadis periang itu melonjak bahagia begitu namanya dikokohkan sebagai juara lomba khitobah. Terbayar sudah keinginannya. Senyum menawan tidak pernah lepas dari wajahnya. Dalam hati ia bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengharumkan nama MTsNJ.

“Kalau latihan saya tidak pernah ngoyo bahkan Ustadz Abdul Haq ragu kalau saya serius mau ikut lomba. Latihan saya harus santai tapi serius agar tidak tegang. Yang paling penting harus enjoy dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha,” pungkasnya seraya tersenyum manis. (ff)

co-admin

Bukan sosok istimewa bagi siapapun